Situs Gunung Ageung, Antara Situs Purbakala dan Kearifan Lokal

Hutan Lindung Gunung Ageung
Hutan Lindung Gunung Ageung

Mungkin banyak orang Majalengka yang awam mendengar nama Situs Gunung Ageung atau Kabuyutan Gunung Ageung. Memang jarang masyarakat Majalengka yang mengetahuinya mungkin hanya para peneliti arkeologi atau pemerhati sejarah, dinas terkait serta masyarakat Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih yang mengetahuinya. Ya situs Gunung Ageung terletak di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih, terletak di sebuah hutan lindung  seluas 64 hektar dan berketinggian -+ 1000 mdpl di kaki Gunung Cakrabuana.Didalam hutan lindung inilah terdapat 5 situs purbakala masa megalitik yang masih terjaga berkat juru pelihara atau kuncen yang merawatnya.

Tim infoMJLK berkesempatan mengunjungi Situs Gunung Ageung dan dengan sangat ramah disambut dan dijamu oleh Pak Heri selaku juru pelihara (kuncen) di kediamannya di Desa Cipasung. Pak heri menjadi juru pelihara (kuncen)  meneruskan dari almarhum mertunya alm Bapak Udin Samsudin. Setalah dijamu di rumahnya yang sederhana namun sangat nyaman, tim kami beserta pak heri langsung menuju Situs Gunung Ageung dengan berjalan  kaki karena lokasi situs tersebut terletak di perbukitan dengan hutan lindung yang cukup lebat hingga hanya jalan setapak yang bisa tim kami beserta pak heri lalui.

Perjalanan tim infoMJLK menuju situs Gunung Ageung dengan berjalan kaki didampingi juru pelihara situs
Perjalanan tim infoMJLK menuju situs Gunung Ageung dengan berjalan kaki didampingi juru pelihara situs

Setelah berjalan tim kami sampai dilokasi pertama, ada sebuah batu yang pak heri sebut sebagai batu dewi citra, sekilas seperti batu biasa, namun oleh kuncen terdahulu di istimewakan sehingga lingkungan di sekitar batu terbiasa dibersihkan dari berbagai macam dedaunan atau ranting yang jatuh di sekitar batu tersebut, menurut  tim konservasi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Seramg yang sempat dating ke situs ini hanyalah batu biasa, namun tetap oleh juru peliharabatu ini diistimewakan.

Bapak Heri (juru pelihara situs) tengah membersihkan di situs 'Batu Dewi Citra'
Bapak Heri (juru pelihara situs) tengah membersihkan di situs ‘Batu Dewi Citra’

Tak jauh dari situs pertama, terdapat situs kedua yaitu Situ Sanghyang Pamangkatan, situ ini cukup istimewa dan bisa menggambarkan sebuah situs megalitik. Situs ini terdapat berbagai macam batu besar mamupu kecil yang masih tersusun rapi walau ada pohon berserta akarnya merusak situs ini, terdapat beberapa batu yang posisinya berdiri namun beberapa sudah terjatuh bahkan patah.

Situs Sanghyang Pamangkatan
Situs Sanghyang Pamangkatan

Tim kami berserta pak heri meneruskan perjalanan ke situs selanjutnya, perjalanan cukup menguras tenaga karena jalan yang cukup terjal menaiki bukit, namun akhirnya tim kami tiba di situs ketiga yaitu Sanghyang Prabu Siliwangi. Asal usul dinamakan sanghyang prabu siliwangi konon menurut pak heri, dulu disini terdapat sebuah padepokan yang sering di kunjungi oleh prabu siliwangi. Batu-batu yang berada di situs sanghyang prabu siliwangai lebih tertata disbanding situs sebelumnya, keunikan situs ini adalah terdapat batu berbentuk kujang dan juga batu yang mirip pisau, karena terpahat sangat halus. Selain itu juga terdapat 4 buah pohon hanjung yang konon menurut pak heri sudah berumur puluhan tahun akan tetapi tidak bertumpuh besar, dan tingginya hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Situs Sanghyang Prabu Siliwangi
Situs Sanghyang Prabu Siliwangi
Batu berbentuk Kujang, di Situs Sanghyang Prabu Siliwangi
Batu berbentuk Kujang, di Situs Sanghyang Prabu Siliwangi

Situs berikutnya yang kami kunjung adalah  Situ Sanghyang Ujung Kulon. Situs ini berada dipinggir lereng bukit dan persis terletak di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Tidak ada kejelasan mengapa dinamakan sanghyang ujung kulon dan sejarah situs ini. Kondisi bebatuan di situs ini, banyak yg sudah patah danditumbuhi lumut, walau kabarnya menurut pak heri tim observasi dari BP3 Serang sempat membersihkan batu megalitik di situs ini selama 3 hari. Ada beberapa hal yang unik yang kami temukan disini, salah satunya adalah sebuah batu yang bila di ketuk oleh batu akan mengeluarkan suara mirip logam yang dipukul, mengeluarkan nada tertentu.

Situs Sanghyang Ujung Kulon
Situs Sanghyang Ujung Kulon

Situs terkahir yang tim kami kunjungi beserta pak heri selaku juru pelihara atau kuncen adalah Situs Sahnyang Peti. Situs ini terletak berada di atas bukit dan tim kami sempat kewalahan Karena rute dari Situs Sanghyang Ujung Kulon menuju Sanghyang Peti harus menuruni dan menaiki bukit ditambah harus melewati sebuah sungai dan lebatnya hutan lindung. Namun sesampainya di Sanghyang Peti, rasa lelah terbayar tuntas setelah melihat bentuk dan kondisi Situs Megalitik Sanghyang peti lebih terawat dan lebih asli ketimbang 3 situs sebelumnya.

Jalan setapak penghubung antar lokasi situs di Hutang Lindung Gunung Ageung
Jalan setapak penghubung antar lokasi situs di Hutang Lindung Gunung Ageung

Di situs Sanghyang Peti terdapat batu-batu besar yang berdiri dan selain itu terdapat sebuah sebuah batu yang berbentuk pipih di samping batu-batu ini, dan kami baru sadar bahwa batu pipih lainnya terdapat pula di setiap situs lainnya di gunung ageing ini. Selain batu-batu besar yang berdiri terdapat batu yang bentuknya menyerupai tanduk kerbau. Konon situs sanghyang peti ini merupakan tempat pemujaan dan pertapaan jaman megalitik dan mungkin pada aat kerajaan sunda kuno, karena menurut keterangan kuncen di situs sanghyang peti ini terdapat sebuah batu yang pada permukaanya terdapat pahatan huruf sunda kuno, namun sayannya prasasti ini di bawa ke Bandung oleh seorang peneliti arkeolog yang kebetulan meneliti tentang situs gunung ageung ini, dan sampai saat ini penelitian lanjutan tentang isi dari prasasti ini belum ada kabarnya.

Situs Sanghyang Peti
Situs Sanghyang Peti

Situs sanghyang peti menjadi akhir perjalanan kami menelusuri situs megalitik gunung ageung. Sebenarnya ada satu lagi situs lainnya,yaitu Situs Sanghyang Bedil, namun karena lokasinya yang cukup jauh dan kondisi tim kami serta pak heri sudah lelah, situs sanghyang bedil kami lewati walau tim kami sebenarnya masih penasaran dengan bentuk situs yang satu ini.

Situs Sanghyang Peti
Situs Sanghyang Peti

Situs atau Kabuyutan Gunung ageung merupakan sebuah karya dari jaman megalitik yang sampai saat tetap terjaga keberadaanya. Di situs ini juga terdapat sebuah tradisi, yaitu tradisi upacara ‘Ngalaksa’ yaitu sebuah upacara menysukuri hasil pertanian atau juga menjadi pertanda musim tanam. Upacara ini biasa dilaksanakan antara bulan Juni-Juli setiap tahunnya. Upacara ngalaksa dilaksanakan di sebuah situ (danau) didekat situs megalitik Gunung Ageung

Situs Gunung Ageung merupakan 1 dari 4 situs yang ada di Majalengka dan berada di bawah pengawasan Balai  pelestarian peninggalan purbakala (BP3) Serang, dan situs-situs yang berada di bawah BP3 Serang merupakan situs sejarah yang berskala nasional, bukan lokal atau regional. Jadi buat baraya yang ingin belajar dan mengetahui peninggalan megalitik tak perlu jauh-jauh ke luar daerah tinggal kunjungi Situs Gunung Ageung di Cipasung Lemahsugih. Bila hendak mengunjungi situs gunung ageung, ada baiknya didampingi oleh juru pelihara atau kuncen, selain medan yang cukup sulit juga letak antar situs yang berjauhan dan dipisahkan oleh hutan yang cukup lebat, dan hewan liar macam babi hutan, sampai meong congkok (kucing hutan) masih mendiami hutan lindung gunung ageung ini.

@copyright infomjlk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s